[RESENSI INDONESIA] Surat Untuk Ruth by Bernard Batubara – Tanpa Spoiler

Title : Surat untuk Ruth
Author : Bernard Batubara
Publisher : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 0786020332987
Price : Rp. 50.000

Reading time : 10th February, 2017 – 12th February, 2017

Rating : 2.0/5.0

Wait! Kenapa jelek banget ratingnya? Memangnya seburuk itukah buku ini? Mari saya jelaskan..

Sinopsis :

Ubud, 6 Oktober 2012

Ruth, satu hal ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama? Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth?

Jika memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat terakhir bersamamu. Meski hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu.

Ironis, Ruth. Kamu berkata “aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.

-Areno

Plot Cerita

OK.. dari sinopsisnya, menarik kan? Begitu juga dengan pikiranku saat aku membeli buku ini. Kupikir sepertinya buku ini akan keren dan pasti tentang kisah cinta yang sedih karena tidak dapat bersatu. Kenyataannya, ceritanya terlalu dangkal. Konfliknya tidak masuk akal (menurutku sudah tidak sesuai dengan alur jaman sekarang). Maksudku, kita sudah tidak lagi hidup di jaman dulu. Dan menurutku alasan Ruth terlalu klise. Proses penyelesaian masalah Areno dan Ruth juga terkesan terlalu cepat dan tidak ada excitement nya sama sekali. Mereka menerima begitu saja persoalan mereka. Pergulatan batin dan penolakan terhadap apa yang terjadi tidak ada. Satu-satunya yang menolong buku ini adalah endingnya. Ending yang sedih selalu akan menolong setiap buku. Ketika saya memberikan rating segera setelah saya selesai membaca buku ini, saya sempat ingin memberikan 5 bintang, karena merasakan ketidak adilan bagi sang karakter. Tetapi setelah saya memberikan waktu untuk saya berfikir ulang, ternyata buku ini memang kurang dibanyak hal.

Gaya penulisan

Ini adalah buku Bernard yang pertama kali saya baca. Saya tidak tahu apakah dia memang terbiasa menulis dengan tulisan yang mendayu-dayu dan menyesakkan jiwa. Tetapi jujur memang kata-katanya melankolis dan filosofis. Model cerita yang berupa surat-surat untuk Ruth juga terkesan unik. Untuk gaya penulisannya saya tidak menemukan masalah.

Karakter

Saya tidak menyukai pemeran utama di buku ini. Jujur saya kesal sekali dengan Ruth. Memang mengikuti keinginan orang tua itu benar. Tetapi penyelesaiannya tidak semudah itu. Kita hidup dalam jaman dimana memberikan pendapat itu hal yang wajar. Tidakkah dia berusaha untuk berdebat dengan orangtuanya sebelum mengikuti begitu saja keinginan orangtuanya? Saya justru lebih tertarik tentang cerita Bli Nugraha dengan Ayundita.

Kesimpulan

Kelebihan buku ini terletak di gaya penulisan. Metode tulisan yang berupa surat untuk menceritakan cerita mereka berdua menurut saya sangat briliant. Sayangnya, konlik buku ini kurang dalam. Penulis terkesan mempercepat semuanya dan ingin sesegera mungkin menyelesaikan buku ini. Saya juga melihat bahwa GPU memberikan high-light yang berlebihan buat buku ini. Saya juga tidak yakin bahwa buku ini akan berada di lemari bukuku untuk waktu yang lama.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s