[RESENSI – INDONESIA] Pasung Jiwa/ Bound by Okky Madasari – Tanpa Spoiler

IMG_20170330_085120_296

Title : Pasung Jiwa/ Bound (English Edition)
Author : Okky Madasari
Publisher : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 9786020322209
Price : Rp. 65.000 (kurang lebih)

Reading Time : 2017, 29 March – 2017, 30 March

Rating : 5.0/5.0

Saya baru saja menyelesaikan buku ini dalam one-sitting. Yaitu bahwa saya membaca buku ini dan tidak dapat melepaskannya dan terus membacanya sampai saya selesai. Lalu mengapa ditulis 2 hari? Sebenarnya bukan 2 hari. Tapi saya mulai membaca tanggal 29 Maret sore dan menyelesaikan pada 00.30 pagi dini hari tanggal 30 Maret. Jadi technically it’s one sitting.

Ini adalah buku Okky yang saya baca pertama kali. Awalnya saya tertarik karena ditulis sebagai Pemenang Katulistiwa Award 2012. Saya lalu berfikir. Pasti ini penulis penerusnya Mr. Pram. Ternyata saya benar.

Ceritanya memuat banyak sekali intrik politik yang dijelaskan dalam sudut pandang 2 orang. Seorang Sasana dan Jaka Wani. 2 orang biasa pada jaman Orde Baru yang dalam benaknya hanya ada menyanyi dan menyenangkan diri. Politik? Tidak ada sekalipun dalam otak mereka yang ingin berurusan dengan politik. Mereka itu seniman. Bukan pemain politik. Mereka ini hanya rakyat biasa. Mau pejabat korup lah, mau pejabatnya jahat lah. Yang penting goyang.

Melalui Sasana dan Jakawani inilah kita menyadari. Kita tidak jauh berbeda dengan mereka. Apakah kita peduli dengan kehidupan negara ini? Saya rasa akhir-akhir ini kita hanya cukup dengan berkoar-koar di media sosial dan selesai masalah. Kita sudah merasa berjasa bagi negara. Sasana dan Jakawani membuat kita kembali menimbang, cukupkah?

Cukup dengan masalah politik. Sasana dan Jakawani juga bergumul dengan kebebasan mereka. Kebebasan dasar, yaitu menjadi manusia. Apa yang terjadi terhadap diri Sasana dan Jakawani mungkin kita alami setiap hari. Yaitu bahwa mengganggap diri kita “waras” padahal jiwa kita tidak. Seolah-olah kita tidak gila, padahal sebenarnya apalagi yang dibutuhkan jiwa dan pikiran kita selain menjadi bebas? Kebebasan itu hanya kita peroleh ketika kita menjadi gila. Jiwa kita tak lagi terpasung oleh norma, nilai, agama. Jiwa yang bebas. Jiwa yang terbang tinggi menyentuh angan-angan dan impian kita.

Berapa banyak dari kita yang seperti Sasana? Terkungkung oleh impian orang tua. Berapa banyak dari kita yang seperti Jakawani? Terkungkung oleh pekerjaan yang tidak sesuai impiannya?

Mereka hanya ingin menyanyi. Ingin bebas.

Saya rasa tidak ada lagi yang perlu saya jelaskan dari buku ini. Saya tidak heran buku ini memenangkan penghargaan itu. Jelas sangat banyak hal yang dapat kita peroleh dari buku ini. Bukan hanya kritik Masa Orde Baru. Masa itu telah lewat, tetapi buku ini abadi. Penulisan Okky yang tidak formal. Lucu dan menyenangkan menambah nilai buku ini. Sehingga saya pun tak menyadari waktu sudah jam setengah satu malam. Dan saya menyelesaikan buku ini serta tidur dengan bahagia.

 

–WILMA–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s