[RESENSI] Ayahku (bukan) Pembohong by Tere Liye

Title : Ayahku (bukan) Pembohong
Author : Tere Liye
Publisher : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 9786020331584
Price : Rp. 65.000

Reading time : 18th August, 2017 – 21st August, 2017

Rating : 4.5/5

Sinopsis

Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya?

Inilah kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri. Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika kalian tidak menemukan rumus itu di novel ini, tidak ada lagi cara terbaik untuk menjelaskannya.

Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya.

PLOT CERITA

Ketika membeli buku ini jujur aku tertarik dengan judulnya. Ayahku (bukan) pembohong. Judul tersebut membuat aku tertarik karena sepertinya saya akan mendapatkan banyak pelajaran hidup, terutama tentang sosok ayah. Cerita dimulai ketika Dam (tokoh utama) sudah menjadi seorang ayah, dan memiliki 2 orang anak yaitu Zas dan Qon. Sejak kecil, Dam tumbuh dengan dongeng-dongeng ayahnya. Dongeng tentang si kelinci Toki, suku Penguasa Angin, dan masih banyak cerita dongeng lainnya yang selalu membuat Dam kecil bahagia walaupun hidup sederhana. Keluarga mereka miskin, tetapi bersahaja, terhormat.

Cerita berkembang dari sejak Dam kecil hingga akhirnya dewasa dan memiliki istri serta anak-anaknya. Sekarang, ayahnya tinggal dengan Dam dan sering mendongengkan ceritanya pada anak-anak Dam. Akan tetapi Dam telah berhenti mempercayai dongeng ayahnya.

Dari segi cerita, sepertinya tidak ada kekurangan dalam buku ini. Memang cerita tentang dongeng tersebut mungkin adalah dongeng yang dibuat oleh Tere sendiri. Sebab aku sendiri belum pernah mendengar tentang dongeng-dongeng tersebut. Pesan yang ingin disampaikan penulis juga dapat ditangkap dengan mudah. Cintai ayahmu. Dalam kesederhanaan yang ia suguhkan kepadamu, mungkin ada sesuatu yang jauh lebih mahal dari sekedar harta yang melimpah.

Banyak pesan moral yang disuguhkan dalam buku ini. Bagaimana seorang anak orang  kaya yang tidak bahagia dibandingkan dengan anak seorang sederhana yang bahagia. Bagaimana memilih jalan hidup yang sederhana, jujur, iklas dibandingkan dengan memilih jalan hidup yang glamor dan berlebih secara materi. Pada akhirnya, manakah yang akan dipilih?

Buku ini mengingat tentang pentingnya dongeng. Sekarang ini, banyak orang tua atau anak-anak yang sudah lupa tentang dongeng. Lupa betapa banyaknya pelajaran hidup yang dapat kita serap dengan menceritakan dongeng pada anak kita. Berapa banyak orang tua yang membiarkan anak-anaknya diam dengan gadget -nya? Mereka tidak lagi membuat anak-anak mereka memiliki quality time dengan mereka melalui cerita-cerita kuno atau dongeng-dongeng cerita fantasi yang dulu menghiasi masa kecil mereka? Bukankah kita seharusnya lebih mengajarkan mereka untuk membaca? Mendengarkan dongeng yang penuh dengan pesan moral yang berharga?

Tetapi ada 1 masalah yang mungkin dibeberapa review yang sebelumnya telah dibahas. Dongeng yang diceritakan kurang relevan dengan ceritanya. Maksud saya, bagaimana mungkin dongeng tersebut mengikutsertakan pesawat terbang?

GAYA PENULISAN

Baik, buku ini adalah buku Tere yang baru pertama kalinya saya baca. Aku cukup menyukai gaya menuisnya. Singkat, tidak bertele-tele. Meskipun terkadang aku menguap saat membaca, mungkin karena kelelahan sepanjang hari. Buku ini juga memiliki kekurangan dalam hal penulisan yaitu berupa cara menulis yang lompat-lompat dari masa kini ke masa lampau. Tidak ada keterangan waktu yang menjelaskan kapan ini terjadi, kapan hal tersebut terjadi.

KARAKTER

Tidak ada tokoh antagonis dalam buku ini. Dan kau tidak mungkin dapat membenci tokoh protagonis bukan? Hal ini yang membuat buku ini kurang menarik dari segi konflik.

KESIMPULAN

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati waktu saya membaca buku ini. Pesan-pesan moral yang aku dapatkan sangat banyak. Belum dapat membuatku menangis, meskipun aku berharap buku ini dapat membuatku menangis, karena sepertinya buku ini akan menjanjikan hal itu (dari segi judul). Tetapi sepertinya aku salah. Akan tetapi banyaknya pesan moral yang saya dapatkan sepertinya cukup untuk menutupi kekurangan tersebut.

“Ah, yang menghina belum tentu lebih mulia dibandingkan yang dihina. Bukankah Ayah sudah berkali-kali bilang, bahkan kebanyakan orang justru menghina dari mereka sendiri dengan menghina orang lain.” – Tere Liye

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s